Yasmin Winnet : Pendidikan adalah Modal Kehidupan

Yasmin Winnet : Pendidikan adalah Modal Kehidupan

Yasmin Winnet Pendidikan adalah Modal Kehidupan
Yasmin Winnet Pendidikan adalah Modal Kehidupan

Setiap warga punya hak mendapatkan pendidikan yang layak. Negara berkewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekilas kalimat tersebut sederhana, namun nyatanya masih sulit untuk diimplementasikan. Sekolah kadang bukan tempat untuk memadu ilmu dan pengetahuan, melainkan hanya sebagai kebutuhan agar seorang anak bisa bersekolah.

Esensi pendidikan menjadi rancu, ketika seorang anak diposisikan sebagai murid yang harus menerima pelajaran dari guru. Apa yang dikatakan guru seolah menjadi pembenar segalanya. Ketika murid salah atau berbeda pendapat, guru memilih untuk memberikan nilai buruk padanya, dengan alasan tidak hormat kepada guru.

Hal tersebut tidak berlaku bagi Yasmin Winnet, seorang perempuan berkewarganegaraan Inggris yang mempunyai darah Indonesia. Terlahir di Indonesia, tak berselang lama ia harus meninggalkan negeri ini untuk mengikuti keluarganya yang mendapatkan pekerjaan di Inggris. Nyatanya, rasa penasaran akan Indonesia masih ia genggam erat. Di Indonesia, tanah kelahirannya, ia ingin hidup dan berkontribusi.

Ketika masuk masa perkuliahan, Yasmin mengambil studi Sastra Indonesia

dan Geografi di School of Oriental & African Studies (SOAS), University of London. Dari studi itu, ia pun belajar banyak tentang Indonesia dan mengenal masa kecilnya.

Tahun 2010, Yasmin mengikuti program belajar di Indonesia. Kesempatan itu tak disia-siakannya. Namun di luar dugaan, di tahun itu ternyata terjadi erupsi besar Gunung Merapi. Yasmin pun akhirnya ikut berkontribusi membantu warga lereng Merapi di lokasi pengungsian, yang lantas membuatnya dekat dengan masyarakat Merapi.

Merasa ada hal yang perlu dilakukan lebih jauh, Yasmin kemudian berinisiatif mendirikan sebuah sekolah yang ia beri nama Sekolah Gunung Merapi (SGM). Letaknya di Pangungrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, yang berada di area 7 kilometer di lereng Gunung Merapi. Di sekolah itulah ia mengajar sekitar 40 anak beserta masyarakat desa; aktivitas yang diakuinya merupakan sebuah tantangan, di mana ia berharap kelak anak didiknya bisa berkontribusi bagi bangsa Indonesia.

Ada empat hal mendasar yang berusaha diajarkan Yasmin Winnet

di Sekolah Gunung Merapi, antara lain yaitu pentingnya mitigasi bencana, toleransi, ekologi, serta nutrisi untuk masyarakat lereng Merapi. Pekan lalu, Suara.com berkesempatan menjumpai sang pendiri sekolah yang berdiri sejak 2015 itu. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda ceritakan bagaimana pertama kali ke Indonesia?

Saya sebenarnya lahir di Indonesia, (namun di) masa kecil nggak sering di Indonesia. Saya balik ke Indonesia tahun 2010, belajar Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada. Kedatangan saya ternyata pas ada erupsi Gunung Merapi, jadi saya ikut membantu. Di sana mulai banyak mengenal Indonesia.

Kenapa tertarik dengan Indonesia?

Itu (karena) ada keturunan dari Indonesia, tapi (saya) nggak tahu Indonesia.

Terhitung saya sudah lima tahun bolak-balik (ke) Indonesia. Itu tadi awalnya punya impian, cita-cita travelling. Mau belajar bahasa asing, tapi nggak bakat, (lantas) aku ambil kajian Indonesia. Aku sangat tertarik dengan Indonesia. Aku merasa ini cocok. Setelah itu aku ambil S1 Jurusan Kajian Sastra Indonesia dan Geografi.

Bisa Anda jelaskan bagaimana awal mula terbentuknya Sekolah Gunung Merapi (SGM) ini?

Pada awalnya saya dan Mas Fajar, kami keduanya punya passion (di) bidang sosial. Kami ingin memulai sesuatu sendiri. Saya dulu kerja di Kamboja, di sebuah LSM khusus menangani pemuda yang ingin meningkatkan kapasitas mereka di bidang ekonomi, lalu dalam bidang kepariwisataan. Aku senang program ini. Di Kamboja mereka buat (kursus) Bahasa Inggris intensif, ternyata 3-6 bulan mereka bisa meningkatkan ekonominya. Ini menarik untuk dibawa ke Indonesia.

 

Sumber :

3 Jurusan Ideal Untuk Pendidikan Guru PAUD