UB Gelar Konferensi Studi Multidisiplin Level Internasional

UB Gelar Konferensi Studi Multidisiplin Level Internasional

UB Gelar Konferensi Studi Multidisiplin Level Internasional
UB Gelar Konferensi Studi Multidisiplin Level Internasional

Universitas Brawijaya (UB) seakan tak ingin dunia pendidikan di Indonesia

tertinggal begitu saja dengan negara lain. Tak heran, mereka menggelar konferensi internasional bertajuk Brawijaya International Conference on Multidisciplinary Science and Technology (BICMST) yang digelar 2-3 Januari 2020 ini.
Harapannya, dengan digelarnya konferensi internasional di bidang studi mutlidisiplin tersebut bisa menciptakan inovasi di dunia pendidikan dan tantangan global.
Sebab, studi multidisiplin dianggap mampu menjangkau hampir semua pelajaran pengetahuan dan teknologi. Secara khusus, pendekatan ini dapat diterapkan sebagai solusi di Indonesia untuk tantangan yang dihadapi termasuk perubahan iklim, pekerjaan, ekonomi kreatif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, media sosial, dan negosiasi antar lembaga.
Untuk diketahui, konferensi tersebut diikuti lebih dari 350 peserta dari dalam maupun luar negeri. Seperti dari Indonesia, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Jepang.
ub conferensi internasional.jpg

Brawijaya International Conference on Multidisciplinary

Science and Technology (BICMST) ini diikuti oleh 350 peserta dari berbagai macam negara. (Foto: Rezza Do’a/Tugumalang.id)
Ketua Forum Wakil Dekan II (FORWADEK II) UB Prof Sukir Maryanto SSi PhD mengatakan, tren atau kecenderungan dari perkembangan ilmu sekarang itu bukan monodisiplin.

“Tetapi lebih pada integrasi ataupun intern dari berbagai macam disiplin ilmu,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Rektor 4 UB Prof Dr M Sasmito Djati menjelaskan jika perkembangan studu multidisiplin merupakan hal yang sangat penting untuk menghadapi era keterbukaan.
“Pada hari ini, ilmu itu sudah melampaui batas-batas yang sudah kita bayangkan. Dulu ada fakultas ekonomi, fakultas hukum, itu nanti berkembang dengan fakultas-fakultas yang lain karena disruption. Nanti ilmu akan berkembang. Dan intinya sebetulnya adalah interdisiplin,” tegasnya.
Sedangkan pembicara yang hadir antara lain adalah Ms Rebecca Britain (Amerika Serikat), Dr Akira Kikuchi (Jepang), Dr Mark Duncan (Selandia Baru), Prof Dr Gugus Irianto (WR 2 UB), Prof Dr M Sasmito Djati (WR 4 UB), Prof Dr Imam Santoso (Dekan FTP), Prof Dr Bambang Supriyono (Dekan FIA), Prof Dr Loeki Enggar Fitri (FK), dan Dr Endra Gunawan (ITB).

 

Baca Juga :