Supriadi Hadirkan Belajar Jarak Jauh yang Asyik

Supriadi Hadirkan Belajar Jarak Jauh yang Asyik

Supriadi Hadirkan Belajar Jarak Jauh yang Asyik
Supriadi Hadirkan Belajar Jarak Jauh yang Asyik

Belajar bisa di mana saja dan kapan saja. Berdasar prinsip tersebut, Ketua Homeschooling Pena Supriadi mengembangkan konsep belajar yang menyenangkan, bahkan bisa jarak jauh.

RUMAH berlantai dua di kawasan Ketintang Baru III tersebut terlihat ramai oleh aktivitas anak pada Jumat (25/8). Sekitar 12 anak asyik belajar di beberapa sudut ruangan. Di ruangan lain, beberapa orang tua terlihat bercengkerama. Mereka ngobrol sana-sini sambil menunggu anak selesai belajar.

Dipandu beberapa tutor, anak-anak tersebut tekun belajar. Ada yang belajar dengan menggunakan buku panduan. Ada pula yang asyik belajar bahasa Inggris sambil nonton film animasi.
Supriadi Hadirkan Belajar Jarak Jauh yang Asyik
Tentang Supriadi SPd MM (Dok Pribadi/Herlambang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Di sudut ruangan seluas 2 x 2 meter di bawah anak tangga, salah seorang tutor Holifah Anna terlihat sibuk. Dari layar laptop 10 inci tersebut, dia berkomunikasi melalui video dari aplikasi Skype dengan Michael J. Yap, siswa kelas VIII SMP di Homeschooling Pena.

Membawa sebuah buku pelajaran IPA, Anna melontarkan beberapa pertanyaan kepada siswa itu. Yang ditanya diam beberapa saat, baru kemudian menjawab pertanyaan tersebut. ”Ini merupakan salah satu program pembelajaran digital learning yang kami miliki,” kata Ketua Homeschooling Pena Supriadi kepada Jawa Pos.

Ya, metode pembelajaran yang digunakan Homeschooling Pena memang cukup unik. Melalui metode online itu, pembelajaran tidak terbatas ruang lagi. Siswa tidak harus belajar dalam satu ruangan dengan sang guru jika ingin mendapat ilmu.

Dengan model digital learning tersebut, kini murid Adi –sapaan Supriadi– tidak hanya berasal dari Kota Surabaya, melainkan menyebar hingga ke beberapa kota di Indonesia. Antara lain, Mojokerto, Solo, Bali, Manado, dan Lombok. ”Ada juga empat siswa kami yang tinggal di luar negeri,” ungkapnya. Yakni, Malaysia, Thailand, dan Australia.

Ide membuat pembelajaran digital tersebut dilakukan Adi sejak 2014. Saat itu dia melihat banyak siswa yang berhalangan hadir belajar secara langsung. Salah satunya, karena kesibukan orang tua untuk mengantar ke ”sekolah”.

Melihat peluang tersebut, dia membuat strategi pembelajaran jarak jauh

. Awalnya, digital learning hanya digunakan sebagai program sampingan. Terutama ketika ada siswa yang tidak bisa datang belajar.

Setelah banyak yang tertarik dengan model pembelajaran jarak jauh itu, Adi merancang teknis kurikulumnya. Digital learning menggunakan materi yang sama dengan pembelajaran tatap muka.

Untuk tugas belajar, siswa tinggal mengirimkan hasil pekerjaannya tersebut melalui e-mail. ”Pembelajaran ini menggunakan media chatting sebagai tambahan bagi guru dan siswa dalam berkomunikasi,” kata pria kelahiran 12 Juni 1973 itu.

Tidak hanya mempermudah siswa, digital learning mendekatkan hubungan antara ana

k dan orang tua. Sebab, setelah pembelajaran dengan guru rampung, orang tua dan siswa bekerja sama dalam mengerjakan tugas.

Kedekatan orang tua dalam sistem digital learning tersebut sangat penting. Sebab, pada sistem itu, terdapat kelemahan dalam pengawasan siswa.

Misalnya, saat siswa mengerjakan ujian tengah semester. Tutor yang memberikan soal tidak bisa mengontrol siswanya yang mengerjakan ujiian nun jauh di luar kelas mencotek atau tidak.

Untuk mengatasi hal itu, sebelum ujian dilaksanakan, biasanya tutor akan mengajak orang tua

berdiskusi. Terutama perihal pentingnya kejujuran dan kemandirian siswa dalam mengerjakan soal ujian tersebut.

”Kami beri penjelasan kepada orang tua. Ujian ini bukan soal nilai, tapi bagaimana siswa berproses,” jelasnya.

 

Sumber :

http://www.pearltrees.com/danuaji88/item261349768