Renungan Tentang NU

Renungan Tentang NU

Renungan Tentang NU
Renungan Tentang NU

Teman-teman sebenarnya ini adalah replay saya di milis NU-Nihon mengenai topik jurus mabuk gusdur (dalam konotasi positif –> artikel lengkap dapat dilihat di sini ). Ada teman lain yang kemudian mereplay dengan negatif sambil ‘menghina’ Gusdur dan pak Mahfud MD sang penulis artikel. Jadi ijinkan saya di tulisan ini untuk juga mencantumkan posting-posting terkait sehingga tulisan ini jelas konteksnya :

> Re: Pendekar Mabuk ala Jackie Chan
> Tmn NUers,Seharusnya kaum muda NU segera memunculkan
> tokoh2 alternatif yg bisa jd pemersatu NU.Ada Gus Zein, Gus
> Soleh…dan gus2 lainnya.Lupakan GDyg sdh uzur dg berbagai
> kelebihan dan kekurangannya sbg manusia,samaspt kita.
> Jgn terus2an membodohi rakyat kecil dg mencarikan pembenaran
> ataskesalahan dan kekurangan GD.Seolah-olah GD adalah org suci
> yg tdkpernah salah dan tdk boleh dipersalahkan.Sy jg heran, org
> sekaliberMahfud MD masih berpikiran spt ini. Melek2..sadar2..:=)
> Selain bagian dari solusi, saya malah melihat GD jg bagian dari
> masalah di NU dan PKB. Coba saja lihat dan renungkan
> konflik2 ygterjadi di NU dan PKB akhir2 ini. Gajah dipelupuk
> mata memang tdk akanpernah kelihatan…..
> ^o~Wassalam
> Harus
> hanya penonton NU saja.

Nah ini baru tulisan saya ………
(karena ini replay email jadi nggak ada judulnya he he he)

Diskusi yang dipantik oleh artikel Mahfud MD yang disalurkan ke milis ini oleh sahabat Kholid Sholeh bagi saya adalah sebuah cermin yang luar biasa kalau kita mau merenunginya. Beberapa renungan yang muncul dalam benak saya antara lain :

1) Betapa kuatnya pengaruh media massa dalam membentuk opini tentang seorang tokoh/komunitas tertentu
2) Betapa lemahnya NU secara lembaga dan personel dalam menyiapkan generasinya sehingga mereka mampu berpikir kritis dalam menganalisis berbagai persoalan serta lemah dalam mengartikulasikan gagasannya di forum-forum publik.
3) Betapa kacaunya pemahaman NU dan warganya atas politik, kepentingan dan hidup bermasyaarakat dll.Untuk renungan pertama mungkin semua di sini akan setuju dengan general issu tersebut tapi nggak semua akan setuju kalau saya katakan bahwa banyak sekali generasi muda NU yang tergerus isu-isu yang dihembuskan berbagai media mengenai NU dan tokoh-tokohnya sendiri. Saya mensinyalir banyak sekali teman-teman NU saya atau warga NU di masyarakat umum yang kemudian menjadi apatis dan skeptis dengan NU beserta program-programnya …paling parah mereka malu mengaku dibesarkan di keluarga NU atau yang lebih parah lagi adalah mereka menjadi tokoh organisasi massa islam lain dan berbalik menyerang NU dengan berbagai kelemahannya.

Jujur perlu kita akui bahwa NU memang punya banyak sekali kelemahan, namun kita harus bangga dengan rasa bangga yang sebesar kita bisa lakukan bahwa NU dibangun atas niat dan cita-cita yang ihlas, demi umat, demi bangsa, demi agama dan sampai sekarang masih diwargai oleh banyak sekali orang yang ikhlas seperti ini. Tidak banyak ormas yang memiliki modal fundamental se-transenden yang dimiliki NU, apalagi kalau kita ngomong ormas-ormas islam transnasional baru yang begitu pandai mengutilisasi perangkat media massa untuk membangun opini dan cara pandang masyarakat.

Renungan ini perlu saya kemukakan di sini karena saya pikir inilah salah satu akar masalah banyaknya generasi muda NU yang dibajak oleh ormas lain (tanpa mengecilkan akar masalah lain seperti kaderisasi yang tidak efektif dan kultur organisasi yang masih feodalistik–yang menyebabkan banyak generasi muda potensial tersisih dan tidak mendapat tempat), yaitu karena kita tidak memiliki kemampuan untuk mengutilisisai sumber-sumber pembentuk opini publik ataupun kita yang tidak pandai mengcounter opini yang tidak baik tersebut. Judgment-judgment dari mas harus LG (yang mengaku sebagai penonton NU) sedikit banyak mencerminkan opini grass root NU yang saya singgung dimuka. Rasa tidak yakin, pemahaman bahwa gusdur itu kacau, ngawur, dll. NU itu terkooptasi kekuasaan dan uang dan lain-lain merupakan contoh-contoh pemahaman yang mulai tumbuh di benak banyak generasi muda dan anak-anak orang NU. Hasilnya mereka tidak berani membela NU ketika NU dicerca oleh temannya, tidak mampu mencounter balik ketika ada teman yang menjelek-jelekkan gusdur dan sedikit mengeneralisasinya menjadi semua kiyai NU dan lain-lain. Bagi saya ini harus menjadi konsen kita bersama.

Untuk renungan kedua sebenarnya sudah sedikit banyak diulas di paragraph terdahulu, tapi saya ingin menekankan pada kemampuan berpikir kritis dan independen yang banyak terlihat di masyarakat grass root NU. Karena ketidak mampuan berpikir kritis inilah ditambah dengan kemampuan akses informasi yang benar serta ketidak tersediaan informasi yang lurus dari lembaga membuat banyak warga NU (termasuk penulis sendiri) yang pada akhirnya tidak bisa membedakan mana fakta mana fitnah, mana benar dan mana yang bertujuan ingin membuat NU cemar. Isu-isu pembelaan gusdur terhadap inul dan lain-lain tidak malah menunjukkan persoalan pada tempatnya tapi lebih pada pembunuhan karakter gusdur sendiri yang kadang diseret ke generalisasi semua kiyai NU.

Saya ingin menekankan behavior orang NU yang bisanya diam saja dan tidak mengcounter ketika NU dijelek-jelekkan merupakan salah satu indikasi lemahnya kepribadian orang NU sendiri dan tidak tahu ketika harga dirinya dipermainkan. Saya tidak menganggap lemah orang yang berprinsip, ah biar saja orang ngomong apa …… yang penting kita ikhlash, yang tahu kebenaran kan gusti Allah, biar Allah sendiri yang balas dia. Tapi saya kira kadang kita perlu bersikap tegas pada orang-orang yang keterlaluan menjelek-jelekkan NU ataupun gusdur (ingat bahwa gusdur disini kadang digeneralisasi sebagai NU dan semua kiyai NU), ingat sahabat-sahabat mereka melakukan hal tersebut sudah lama, fitnah dan lain sebagainya itu sudah biasa mereka lakukan karena kita tidak mampu mengcounter. Jadi kalau kita mengcounter itu hakikatnya kita melakukan amar makruf nahi munkar yang wajib hukumnya bagi orang muslim, mengingatkan pengejek itu akan kealpaannya menghayati perintah-perintah dan larangan gusti Allah, dan mengajak dia untuk lebih jujur dan ikhlash dalam hidup bermasyarakat. Jangan mencounter mereka karena kita marah ……. kita tidak perlu marah kalau kita benar, karena hakikatnya mereka yang rugi sendiri di hadapat gusti Allah, kalau kita melakukan amar makruf nahi mungkar (mengcounter) dengan niat yang benar kita malah dapat point yang lebih tinggi.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/magic-nightfall-apk/