Proteinuria

Proteinuria

Proteinuria

  • Proteneuria dengan berat molekul rendah

Membran basal glomerulus (GBM) merupakan barier terhadap protein plasma yang bersikulasi secara selektif berdasarkan ukurannya. Protein plasma dengan  berat  molekul tinggi (HMW ) oleh ukurannya secara fisiologis dibatasi untuk memasuki kompartemen pembuluh darah. GBM juga mengandung banyak heparan sulfat, dengan golongan sulfat memberikan muatan listrik negatif yang kuat kepada GBM serta hambatan selektif pada barier glomerulus. Oleh karena hambatan selektif ini, maka pada keadaan normal, protein HMW tidak didapatkan dalam urine. Bila terjadi peningkatan permeabilitas glomerulus, maka protein tersebut akan di temukan dala urine.


Sebaliknya, protein plasma dengan berat molekul rendah (LMW), yaitu berat molekul kurang dari 40.000 dalton, dapat dengan mudah melewati ultrafiltrasi glomerulus. Protein LMW diserpa kembali secara efisien oleh tubulus proksimal. Protein yang melewati saringan mengikat diri pada membran saluran sebelum dipisahkan ke dalam gelembung dalam sel dan akhirnya nelebur bersama enzim lisosom, tempat hidrolisis protein terjadi. Efisiensi yang tinggi dalam proses reabsorpsi menjamin urine yang dikeluarkan bebas dari protein sama sekali. Sebaliknya, bila teradi proteneuria LMW, maka terdapat disfungsi tubulus (Bernard dkk, 1987a).


  • Proteneuria dengan berat molekul tinggi

Albumin secara kuantitatif adalah protein HMW utama yang ditemukan dalam urine. Oleh karena itu, lebih mudah mengukur albumin dalam urine yang tidak pekat. Kadarnya digunakan secara luas sebagai indeks terjadinya kerusakan glomerulus. Bila albuminuria bermakna secara-klinis(>0,5 g/hari), lebih dimungkinkan terjadi akibat meningkatnya permeabilitas glomerulus dibandingkan akibat gangguan reabsorpsi tubulus. Namun, terdapat pertentangan pendapat tentang sumber albuminuria ketika ambuminria yang terjadi kurang dari 0,5 g/hari.


Beberapa dalil menyatakan bahwa reabsorpsi albumin dan protein LMW oleh tubulus dalah melalui mekanisme yang berbeda terkena akibatnya secara selektif, oleh karena itu, mikroalbuminuria yang terisolasi pada penderita diabetes atau keracunan kadmium kronis, mungkin bersumber pada tubulus. (Michels dkk, 1982;Abrass,1984). Namun, Bernard dkk.,(1987) membantah melalui uji coba binatang bahwa protein HMW dan LMW memperebutkan tempat ikatan yang sama. Lebih lanjut, pada tikus, mikroalbuminuriayang disebabkan oleh keracunan kadmium kronik dapat disebabkan oleh hilangnya muatan polianionik atau perubahan area hidrofobikpada hambatan glomerulus (Bernard dkk, 1988; Mutti dkk,1989).


Tranferin adalah protein HMW lain yang dapat diukur kadarnya di dalam urine dan digunakan sebagai indeks integritas glomerulus. Bila dibandingakn dengan albimin dalam urine penderita diabetes, tranferin dalam urine meningkat 8,7 kal dibandingkan dengan albumin yang hanya mengikat 4,6 kali (Bernard dkk, 1988b).


Baca Juga :