Prof Endang Susantini Ajak Guru Asah Kreativitas Siswa

Prof Endang Susantini Ajak Guru Asah Kreativitas Siswa

Prof Endang Susantini Ajak Guru Asah Kreativitas Siswa
Prof Endang Susantini Ajak Guru Asah Kreativitas Siswa

Prof Endang Susantini dikukuhkan menjadi guru besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa

) pada 2011. Dia dinobatkan dalam bidang strategi pembelajaran biologi. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah pembelajaran genetika di sekolah menengah.

BAGI Prof Endang, biologi merupakan materi yang unik dan menarik. Belajar biologi, terutama genetika, bisa mengantarkan seseorang untuk mengetahui pewarisan sifat suatu makhluk hidup. Ilmu tentang genetika juga terus berkembang. Salah satunya adalah genetic modified organism (GMO) atau rekayasa genetika.

Ketertarikan Endang pada biologi dimulai saat duduk di bangku sekolah. Mata pelajaran itulah yang mengantarkannya menjadi guru besar seperti saat ini. Dia menyukai biologi karena terinspirasi cara mengajar gurunya ketika di bangku SMA.
Prof Endang Susantini Ajak Guru Asah Kreativitas Siswa
Lebih Akrab Dengan Prof Endang Susantini (Grafis: Herlambang//.com)

Alumnus SMAN 11 Surabaya itu menyebutkan, gaya mengajar gurunya sangat menarik.

Materi yang disampaikan pun mudah dipahami. Perlahan-lahan, mindset-nya tentang biologi berubah.

Mulanya, dia membayangkan biologi sebagai mata pelajaran yang harus dihafalkan. Namun, pemikiran itu bergeser. Biologi, lanjut dia, bukan mata pelajaran yang harus dihafalkan. Melainkan ada metode-metode yang bisa membuat mata pelajaran tersebut menjadi sangat mudah.

Menurut dia, pembelajaran genetika di sekolah menengah memerlukan tingkat berpikir formal atau abstrak. Sebab, materi pembelajarannya cenderung abstrak. Karena itu, kreativitas guru sangat diperlukan. Diharapkan, pembelajaran genetika di sekolah menengah bisa lebih mudah dipahami siswa.

Menurut dia, guru yang kreatif memang harus mau belajar dan harus mau mencari pengetahuan. Endang menyatakan, salah satu strategi pembelajaran yang bisa melatih kemampuan berpikir siswa adalah strategi metakognitif. Yakni, strategi yang bisa diterapkan di kelas melalui panduan lembar penilaian pemahaman diri (LPPD).

Ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan. Mulai menggali pengetahuan awal, mengorganisasi siswa dalam kelompok, membandingkan pengetahuan awal siswa, berdiskusi, hingga menilai sendiri hasil pemahamannya. Panduan tersebut, mendidik siswa untuk bersikap jujur, berani mengakui kesalahan, dan menilai pemahamannya sendiri. ”Keterampilan mengamati juga penting,” katanya.

Perempuan yang terlibat dalam penyusunan instrumen uji kenerja mahasiswa pendidikan profesi guru (PPG) itu menerangkan, alat dan bahan sederhana di sekitar siswa bisa dioptimalkan dengan baik. Terutama untuk belajar genetika tentang poliploidi. ”Selain itu, kalau tidak ada zat kimia kolkisin, bisa diganti bahan dari tanaman,” terangnya.

Bahan-bahan sederhana di sekitar tempat tinggal memungkinkan dioptimalkan.

Dia mencontohkan mengenai isolasi DNA (materi genetika). Bahan-bahan seperti hati ayam bisa menjadi sampel untuk percobaan. Bahkan, penggunaan material sederhana seperti garam, gula, air mineral, sabun cair, dan detergen memungkinkan pelaksanaan isolasi DNA. ”Mengamati, keterampilan berpikir, memang sangat penting,” ujarnya.

Pembelajaran, lanjut dia, sudah seharusnya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Hal itulah yang harus diperkuat dalam pembelajaran di sekolah menengah. Kemampuan berpikir perlu dilatih secara langsung dan terencana. ”Sebab, biologi tidak sekadar text book reading atau hafalan,” imbuhnya.

Tentang hal itu, para guru harus siap dan kreatif. Aspek pembelajaran menjadi titik perhatian. Di antaranya, strategi, metode, hingga urusan teknis pelaksanaan pembelajaran lainnya. Tak terkecuali memanfaatkan media, model, dan animasi. ”Guru tidak bisa digantikan gadget jika yang diajarkan keterampilan berpikir,” ungkapnya.

 

Sumber :

https://works.bepress.com/m-lukito/2/