peranan Syeikh Aq Syamsuddin sebagai guru spiritual Muhammad al-Fatih

Hubungan Ulama dan Umara Masa Turki Usmani

Ulama dan umara adalah pasangan pemuka masyarakat yang utama. Ulama dalam bahasa arab disebut juga ‘Alim, adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari-hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Secara harfiyah ulama berarti orang-orang yang memiliki ilmu. Sehingga yang dapat digolongkan sebagai ulama adalah orang Muslim yang menguasai ilmu agama Islam, memahami syariat Islam secara menyeluruh dan mampu menjadi teladan umat Islam dalam memahami serta mengamalkannya.
Sedangkan umara’ dalam KBBI adalah pemimpin pemerintahan. Umara merupakan bentuk jama’ dari kata amir yang artinya pemimpin, penguasa. Selain memegang kekuasaan umara juga bertanggung jawab dalam mengatasi berbagai persoalan yang timbul. Di dalam Islam tidak ada pemisahan antara soal-soal yang sakral dengan yang sekular. Pemerintahan sepatutnya berjalan di atas kebenaran dan bertindak sebagai imam yang shaleh. Kekuasaan merupakan amanat yang harus ditunaikan dengan jujur, adil dan ikhlas, bukan untuk dibangga-banggakan dan disalahgunakan.

 

2.2 Hubungan Ulama dan Umara Masa Turki Usmani

Para raja Turki Usmani bergelar Sultan dan Khalifah sekaligus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan khalifah berkuasa di bidang agama. Pada masa Sulaiman al-Qanuni Kesultanan turki Usmani telah berhasil mencapai puncak kemajuan dan kejayaan. Sebagai khalifah sekaligus sultan, Sulaiman sangat menyadari arti tanggungjawab dalam mempertahankan tempat-tempat suci kaum muslimin. Dia sadar bahwa semua itu merupakan amanah dan tanggungjawab bagi pemerintahan Turki Usmani.
Kesultanan Turki Usmani sejak pemimpinnya yang awal, menjadikan Islam sebagai landasan utama pemerintahannya. Para pemimpinnya dikenal sebagai ghazi (pejuang, mujahid) dan kesultanannya kadang disebut di dalam buku-buku sejarah sebagai ghazi-state karena menjadikan jihad sebagai tonggak penting pemerintahan.
Ustman bahkan berpesan pada putranya Orhan untuk selalu berkonsultasi pada para ulama dalam hal-hal yang tidak diketahui. Nasihat ini juga telah dilakukan oleh Usman sendiri yang sering berhimpun dengan para ulama dan melibatkan mereka dalam urusan pemerintahan. Maka hal ini juga dipegang kuat oleh para penerus Usman dan menjadi dasar yang mewarnai kebijakan pemerintahan mereka seterusnya. Seperti dalam penaklukan Konstantinopel, betapa besar peranan Syeikh Aq Syamsuddin sebagai guru spiritual Muhammad al-Fatih. Syeikh Aq Syamsuddin juga yang diminta oleh al-Fatih untuk mencari makam Abu Ayyub al-Ansari, sahabat Nabi yang syahid dan dimakamkan di dekat tembok Konstantinopel. Kemudian makam itu dirapikan dan dibangun masjid di sebelahnya. Turki Usmani dan kiprah peradabannya yang besar dan berumur panjang itu adalah representasi dari pernikahan ulama dan umara, juga pernikahan antara tasawuf dan kemiliteran.


Sumber: https://vds.co.id/