Pengertian Zat Psikoaktif (Zat Adiktif), Tingkat Serta Faktornya Lengkap

Selamat datang di ppag, disini akan membahas materi tentang apa itu Zat Psikoaktif. Berikut dibawah ini penjelasanya:

Pengertian Zat Psikoaktif (Zat Adiktif), Tingkat Serta Faktornya Lengkap

Pengertian Zat Psikoaktif (Zat Adiktif)

Pengertian Zat Psikoaktif (Zat Adiktif), Tingkat Serta Faktornya Lengkap – Zat psikoaktif ialah zat atau bahan yang apabila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh, terutama susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan perubahan aktivitas mental-emosional dan perilaku. Apabila digunakan terus menerus akan menimbulkan ketergantungan (oleh karena itu disebut juga sebagai zat adiktif). Walaupun zat psikoaktif tertentu bermanfaat bagi pengobatan, tetapi apabila disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan, akan sangat merugikan yang menggunakan.

Tiga golongan zat yang termasuk kategori ini ialah opioda tanaman ganja, dan kokain.

Dalam Ilmu Kedokteran Forensik, narkotika dan obat pada umumnya digolongkan sebagai racun, sebab bila zat tersebut masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan reaksi biokimia yang dapat menyebabkan penyakit atau kematian. Penyakit atau kematian itu tentunya bergantung pada takaran (dosis), cara pemberian, bentuk fisik dan struktur kimia zat, serta kepekaan korban. Kepekaan korban dipengaruhi pula pada usia, penyakit terdahulu atau yang bersamaan, kebiasaan, keadaan hipersensitif tertentu, dan sebagainya. Narkotika masuk ke dalam tubuh koban dapat akibat unsur kesengajaan ataupun kebetulan. Kesengajaan dapat akibat ulah orang lain (penganiayaaan atau pembunuhan) maupun akibat ulah diri sendiri (penyalahgunaan atau usaha bunuh diri). Sedang unsur kebetulan dapat terjadi akibat kecelakaan industri, keteledoran dalam rumah tangga, kesalahan pengobatan, dan lain-lain.

Golongan opidia terdiri dari turunn opium dan zat sintetiknya, seperti misalnya morpin, diasetilmorfin atau diamorfin (dikenal sebagai heroin, smack, horse, dope), metadon, kodein, oksikodon (percodan, percocet), hidromorfin (dilaidid, levodromoran), pentazosin (talwin), meferidin (demerol, petidin), dan propoksipen (darvon). Turunan opium menjadi sangat beragam dan luas pemakaiannya karena penggunaan medik dan kemajuan ilmu farmakologi. Jenis-jenis opidia yang digunakan dalam dunia kedokteran jarang sekali disalahgunakan karena ketatnya pengendalian dan pemantauan berdasarkan peraturan legal. Heroin adalah opidia yang paling sering disalahgunakan di dunia dengan penggunaan melalui suntikan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Zat Psikoaktif (Zat Adiktif)

1. Faktor Predisposisi Ketergantungan Obat

Alasan atau latar belakang penggunaan zat adiktif berbeda-beda namun biasanya akibat interaksi beberapa faktor. Beberapa orang mempunyai risiko lebih besar menggunakannya karena sifat atau latar belakangnya yang disebut faktor risiko tinggi atau faktor kontributif, yang dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor individu dan faktor lingkungan.

2. Faktor individu

Faktor konstitusi (a.l kerentanan sistem neurotransmitter, temperamen bawaan) atau faktor biologik dan genetik. Secara biologik, mekanisme kerja opioid didalam susunan saraf pusat akan diterangkan di bagian lain buku ini. Peran faktor genetik pada ketergantungan opioid belum dapat dibuktikan.

Faktor kepribadian, yang mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu :

– impulsif, diekspresikan dalam bentuk tidak dapat menunda keinginan

– tidak mampu mengatasi perasaan-perasaan tidak enak (painful affect; misalnya amarah, rasa bersalah, kecemasan, ketakutan), takut akan kegagalan.

– perasaan rendah diri, tidak mempunyai keyakinan diri yang mantap, kesulitan dalam mengungkapkan perasaan.

– toleransi terhadap frustasi yang rendah

– menghindar dari tanggungjawab tetapi menuntut hak.

– mengalami depresi, baik yang jelas maupun yang terselubung, yang sering disertai kecemasan dan perilaku agitatif yang didasari agresi yang terpendam.

– Ciri-ciri individu penyalah guna zat ialah :

– rasa ingin tahu yang kuat dan ingin mencoba

– tidak bersikap tegas terhadap tawaran/pengaruh teman sebaya.

– penilaian diri yang negatif (low self-esteem) seperti merasa kurang mampu dalam pelajaran, pergaulan penampilan diri atau tingkat/ status sosial ekonomi yang rendah.

– rasa kurang percaya diri (low self-confidence) dalam menghadapi tugas

– mengurangi rasa tidak enak, ingin menambah prestasi

– tidak tekun dan cepat jenuh

– sikap memberontak terhadap peraturan/tata tertib

– pernyataan diri sudah dewasa

– identitas diri yang kabur akibat proses identifikasi dengan orang tua/penggantinya yang kurang berjalan dengan baik, atau gangguan identitas jenis kelamin, merasa diri kurang jantan.

– defresi, cemas, hiperkinetik

– persepsi tidak realistic

– kepribadian dissosial (perilaku menyimpang dari norma yang berlaku)

– penghargaan sosial yang kurang

– keyakinan penggunaan zat sebagai lambang keperkasaan atau kemodernan (anticipatory belief)

– kurang menghayati ajaran agama

Faktor lingkungan meliputi :

– mudah diperolehnya zat adiktif

– tekanan dari teman sebaya

– komunikasi orangtua (ayah-ibu) yang kurang harmonis

– orangtua atau anggota keluarga lainnya menggunakan zat adiktif

– lingkungan sekolah yang tidak tertib

– lingkungan sekolah yang tidak memberi fasilitas bagi penyaluran minat dan bakat para siswanya.

Tingkat Pemakaian Zat Adiktif

Terdapat beberapa tingkatan pemakaian adiktif, yaitu :

a. Pemakaian coba-coba (experimental use) yang bertujuan hanya ingin mencoba memenuhi rasa ingin tahu. Sebagian pemakai berhenti menggunakannya dan sebagian lain meneruskan.

b. Pemakaian sosial (social use) yang bertujuan hanya untuk bersenang-senang (saat rekreasi atau santai). Sebagian pemakai tetap bertahan pada tahap ini, namun sebagian lagi meningkat ke tahapan selanjutnya.

c. Pemakaian situasional (situasional use) pemakaian pada saat mengalami keadaan tertentu (ketegangan, kesedihan, kekecewaan) dengan maksud menghilangkan perasaan tersebut.

d. Penyalahgunaan (abuse), pemakaian sebagai suatu pola penggunaan yang bersifat patologik atau klinis (menyimpang), minimal satu bulan lamanya, dan telah terjadi gangguan dalam fungsi sosial atau pekerjaannya.

e. Ketergantungan (defendence), telah terjadi toleransi dan gejala putus zat, bila pemakaian zat dihentikan atau dikurangi atau tidak ditambah dosisnya.

Komplikasi medik yang khas untuk setiap jenis zat :

– opioida : obstipasi kronik, gangguan menstruasi, dan impotensi

– ganja : bronkhitis, imunitas seluler menurun sehingga mudah terserang penyakit infeksi, aliran darah koroner diperburuk, fungsi kognitif terganggu.

– kokain : ulserasi/perforasi septum nasal, aritmia kordis, malnutris anemia.

– amfetamin : pendarahan intrakranial, aritma kordis, malnutrisi anemia

– alkohol : gastritis, perlemakan hati, sirosi hepatis, kanker saluran cerna, kardiomiopati, gangguan metabolisme lemak, karbohidrat dan protein, cacat bawaan pada janin.

– inhalasia : toksis terhadap hati, otak, sumsum tulang, ginjal, dan otot jantung.

 

Baca Artikel Lainnya: