Pengertian Augmentasi

Pengertian Augmentasi

Pengertian Augmentasi

Augmentasi adalah

proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter ialah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.


Zat sisa metabolisme merupakan hasil pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain, CO2, H2O, NHS, zat warna empedu dan asam urat. Pada karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut tidak berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar (penjaga kestabilan ph) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut.


Amonia (NH3), hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan zat yang beracun bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh, namun demikian, jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak menjadi zat yang kurang beracun yakni dalam bentuk urea.


Zat warna pada empedu ialah sisa hasil perombakan sel darah merah yang dilaksanakan oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan dioksidasi jadi urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan urin. Asam urat merupakan sisa metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan amonia) dan memiliki daya racun lebih rendah dibandingkan amonia, karena daya larutnya di dalam air rendah.


  • Struktur

Proses augmentasi ini terjadi di tubulus ginjal tepatnya pada tubulus kontortus distal yang berbentuk seperti pipa yang mengalirkan filtrat tubulus (urine sekunder)


  • Proses

Pada proses ini pembuluh darah melepaskan zat-zat yang tidak berguna seperti ion H+, Kalium (K+), dan Amonium (NH4+) ke urine sekunder pada tubulus kontortus distal. Selama melewati tubulus distal, urine kehilangan banyak air (H2O) sehingga konsentrasi urin semakin pekat. Kemudian dialirkan ke tubulus kolekta dan ke medulla.


Setelah itu urine memasuki pelvis renalis dan menuju ureter, kemudian dialirkan ke vesica urinaria untuk ditampung sementara waktu. Pengeluaran urin diatur oleh otot-otot sfingter. Kandung kemih hanya mampu menampung kurang lebih 300 ml. Setelah itu, urin akan dikeluarkan melewati saluran uretra melalui proses Mikturisi adalah refleks sebagai tanggapan terhadap peregangan dinding kantong kemih.

  1. Komposisi urine normal : 96% air, 2.5% urea, dan 1,5% zat lain (zat warna empedu, garam mineral, dan kelebihan vitamin terutama B dan C)
  2. Banyak sedikitnya urine yang dihasilkan dipengaruhi oleh suhu, banyak sedikitnya meminum air, dan hormone ADH. Yang berfungsi meningkatkan permeabilitas dinding tubulus distal dan tubulus kolekta terhadap air.

Sumber: https://www.r9racinggeneration.co.id/rovercraft-apk/