Pegiat Gerakan Literasi Sekolah, Satria Dharma dan Perjuangannya Selamatkan Minat Baca Siswa Indonesia

Pegiat Gerakan Literasi Sekolah, Satria Dharma dan Perjuangannya Selamatkan Minat Baca Siswa Indonesia

Pegiat Gerakan Literasi Sekolah, Satria Dharma dan Perjuangannya Selamatkan Minat Baca Siswa Indonesia
Pegiat Gerakan Literasi Sekolah, Satria Dharma dan Perjuangannya Selamatkan Minat Baca Siswa Indonesia

Berdasarkan statistik UNESCO pada 2012 indeks minat baca di Indonesia

baru mencapai 0,001. Artinya setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Dari semua negara-negara di ASEAN, Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan minat baca terendah. Data ini dipaparkan oleh Satria Dharma, sosok penting dibalik terciptanya Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Satria mengutip pernyataan budayawan-sastrawan Taufiq Ismail, di beberapa negara terutama Rusia, satu orang siswa paling sedikit membaca 14 buku setahun. Tapi sebaliknya, di Indonesia bahkan ada anak yang hanya membaca satu buku setahun. ‘Lalu, bagaimana bisa ahli menulis jika membaca saja jarang?’ merupakan pertanyaan yang muncul dalam benak Satria saat melihat fakta mengerikan ini.
Satria Dharma, Ketua IGI, pegiat literasi, gerakan literasi

Satria Dharma, pegiat Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bersama istri.

Sebagai inspirasi, Satria Dharma menceritakan langkah Pemerintah India

dalam meningkatkan minat baca masyarakatnya. “Pemerintah India bekerjasama dengan penerbit asing, agar buku terbitan asing dapat dicetak di India dengan harga lebih murah. Banyak program yang dijalankan oleh mereka agar harga buku jadi benar-benar murah,” jelasnya. Melihat fakta inilah, Satria menjadi semakin terdorong untuk menggalakkan Gerakan Literasi Sekolah.

Perjuangannya untuk menyelematkan minat baca masyarakat Indonesia tak kenal lelah. Satria yang pernah menjadi ketua IGI, menawarkan program Gerakan Literasi Sekolah ke sekolah-sekolah dengan cara presentasi langsung. Agar tak memberatkan pihak sekolah, ia bersedia datang dengan gratis asalkan pihak sekolah membuka diri terhadap materi literasi. “Semua saya lakukan, meski menghabiskan biaya pun tak apa. Karena saya ingin Indonesia bisa setara dengan negara-negara lain yang sudah lebih maju dari keterpurukan membaca,” ungkapnya.
Gerakan Literasi Sekolah, Perpustakaan Keliling, Layanan Baca Masyarakat

Layanan perpustakaan keliling dalam mobil, sebagai salah satu upaya Gerakan Literasi Sekolah (GLS). (source: news.okezone.com)

Masalah literasi yang digeluti sejak tahun 2013 ini mulai menampakkan buahnya di tahun 2014. Surabaya menjadi kota pertama yang mencanangkan diri sebagai ‘Kota Literasi’ dengan pembangunan perpustakaan di mana-mana. Beberapa di antaranya seperti layanan Perpustakaan Daerah, Taman Bacaan Masyarakat di banyak taman kota, Perpustakaan Keliling di 64 titik, hingga layanan bacaan yang tersebar di hampir seluruh Balai RW, Kelurahan dan Kecamatan.

Semakin hari, gema literasi semakin terdengar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Bahkan pada tahun 2015, Menteri Pendidikan dan Budaya (Mendikbud) menerbitkan peraturan Permendiknas no. 21 th. 2015. Salah satu poin yang tercantum dalam peraturan tersebut mewajibkan siswa membaca 15 menit setiap hari sebelum pelajaran dimulai. “Ini sebagai upaya menumbuhkan budaya membaca pada siswa, sekaligus minat baca bangsa secara nasional. Ini memang bahasan yang sudah sejak lama kami diskusikan, bahkan sebelum beliau jadi Mendikbud,” ujar Satria.

Kini, Gerakan Literasi Sekolah sudah berdengung di mana saja. Bahkan tidak hanya Surabaya, pada tahun 2016 Jakarta juga mendeklarasikan diri sebagai provinsi literasi. “Pegiat literasi muncul dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Ini yang saya namakan sebagai the rise of literacy,” ucap Satria. Dukungan pemerintah juga nampak dengan ditetapkannya kebijakan Hari Kirim Buku Gratis, di mana pada tanggal 17 setiap bulannya semua orang bisa mengirim buku gratis melalui kurir.

 

Sumber :

http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JPAUD/comment/view/516/1602/21501