Menuju jaman keterjajahan

Menuju jaman keterjajahan

Menuju jaman keterjajahan
Menuju jaman keterjajahan

Pagi hari habis sahur, buka internet …. iseng-iseng buka blog JePITS, eeh ternyata nggak ada satupun posting untuk bulan September padahal sekarang ini sudah tanggal 30 September. So agar paling tidak ada satu posting setiap bulannya, aku masukin saja tulisan ini

Ide tulisan ini diawali dari diskusi di milis ti96, seorang teman dengan berang mengirim kisah perlakuan buruk polisi diraja malaysia kepada warga indonesia yang sedang melancong di sana. Tidak-tanggung tanggung subjek tulisannya adalah : Malaysia Keparat !!!. Inti forward itu adalah bahwa malaysia telah merasa bangsanya lebih tinggi derajatnya dari bangsa kita, mereka mulai biasa memandang bangsa kita adalah bangsa babu, kuli, tak berpendidikan, sering kali ilegal dan menjadi trouble maker di sana.

=================================================================

een natie van koelies, en een koeli onder de naties

“bangsa yang terdiri dari para kuli dan kuli diantara bangsa-bangsa” Begitulah penilaian sukarno terhadap mentalitas bangsa kita di sebelum dan awal era kemerdekaan. Bagaimana tidak, sejak ratusan tahun menjajah, bangsa belanda menjejali bapak kakek kita dengan doktrin kelas kuli tersebut. Jangankan rakyat jelata para piyayi pun harus jalan ngesot dan menghaturkan sembah ketika seorang gubermen belanda datang berkunjung atau mereka yang menghadap. Koteks era feodal saat belanda mulai menjajah kita serta jaman di mana manusia tidak dianggap duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi membuat kita bisa memaklumi hal tersebut secara logis dan wajar bisa terjadi. Akan tetapi di jaman modern seperti ini, bukan bangsa belanda atau eropa lain yang telah biasa mengangkangi bangsa lain. bangsa-bangsa bekas jajahan pun (baca : malaysia, singapura, arab dll) juga menganggap kita bangsa kuli.

—> 3 paragraf berikut ini konteks aslinya sebenarnya buat teman-teman saya ti 96 yang banyak bekerja di PMA dengan gaji yang cukup tinggi <–

Ini adalah cermin betapa harga diri kita telah tergadaikan di depan mata bangsa-bangsa lain dan di depan mata dunia. Kita, sebagai generasi muda yang dapat kuliah dengan dibantu uang pajak dan hasil jualan kekayaan negara telah menjelma menjadi kelas menengah baru yang sebenarnya menjadi tulang punggung maju dan mundurnya bangsa ini. Tapi deru realitas, kadang memaksa kita untuk hanyut dan bahkan merasa puas dengan apa yang ada.

Bekerja di perusahaan PMA besar dan prestise, keliling dunia dan digaji tinggi (jika dibandingkan dengan gaji orang indonesia kebanyakan) seringkali telah merasa selesai dan puas. Kalaupun tidak puas, maka sering kali yang kita inginkan adalah jabatan lebih tinggi, prestasi lebih tinggi dan gaji serta fasilitas lebih banyak. (tanpa bermaksud menggeneralisasi karena saya yakin kalau diantara teman-teman ada yang tidak bermental begitu). Sedangkan berkontribusi nyata buat kemajuan bangsa, memerdekakan diri sendiri dan keluarga kadang tidak mampir di benak kita.

Bagian ini saya awali dengan mohon maaf, karenamungkin ada diantara saudara yang tidak berkenan, sekali lagi mohon maaf. Berapa sih gaji anda per bukan ?, 5 juta, 10 juta atau 15 juta ?. (gaji saya> sendiri cuman 1,7 jt). Kalau saya bandingkan dengan gaji seorang petugas cleaning di Australia yang rata-rata $17.50 /hour. Anggap saja si petugas cleaning bekerja 7 jam sehari dan 5 hari seminggu. Maka akan kita dapatkan gaji bersih bulanannya adalah 17.5 x 7 x 5 x 4 = $ 2,450 / bulan. Anggap juga sudah dipotong pajak sebanyak $250 maka gajinya masih $2,200 / bulan. Dengan kurs AU$ 1 = Rp 7.500,- kita dapatkan Rp 16.500.000,- . Jadi gaji ampeyan-sampeyan itu masih sama atau bahkan di bawah gaji kuli di negara asing. Kalau kita mau jujur ….. gaji pegawai asal indonesia dengan gaji bule pasti memakai standar yang berbeda, meskipun berada pada perusahaan yang sama ……. jadi pada hakikatnya kita masih disamakan posisinya dengan kuli oleh bangsa-bangsa lain. Memang ini terksesan berbau anti kapitalisme dan anti asing, tapi begitulah adanya saat kita berhubungan dengan negara asing dan kaum kapitalis.

…………………………………………………………… ini sudah masuk konteks umum lagi

Memang penjajahan jaman sekarang itu beda banget bentuknya dengan jaman dulu, kalau mau contoh nyata lihat saja apa yang terjadi barusan di negeri kita. Gara-gara hak siar liga inggris dikuasai astro, jutaan warga kita kehilangan kesenangan menikmati liga seru tersebut. Kalo mau liat kita harus setor uang dulu ke astro. Memang sih contoh itu masih jauh dari rasa dijajah yang dialami pendahulu kita. tapi sedikit banyak ya begitu itulah bentuk dijajah di jaman moderen ini. Contoh lain adalah seperti email yang pernah dilontarkan oleh seorang alumni teknik mesin ITS dengan subjek : Kegalauan saya terhadap Insinyur Mesin Indonesia. Email itu intinya betapa kita nggak punya kemandiriaan teknologi dan nggak secara strategis membangun hal itu.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/frontline-shooter-apk/