Lobster Menteri Perancis di Simeulue

Lobster Menteri Perancis di Simeulue

Lobster Menteri Perancis di Simeulue
Lobster Menteri Perancis di Simeulue

BANDA ACEH – Dunia terkesima. Tiba-tiba Menteri Lingkungan Perancis François de Rugy

mengundurkan diri dari jabatan empuk itu. Orang dekat Presiden Emmanuel Macron memilih mundur setelah muncul laporan yang menyatakan dirinya makan malam lobster yang dibayar dengan uang negara.

Sebelumnya, tersebar foto lima lobster di meja yang di Hotel de Lassay, kediaman resmi ketua Majelis Nasional Prancis dan istri de Rugy Severine. Rugy membantah menggunakan uang negara untuk membayar santap makan malamnya. Dia mengatakan dirinya alergi lobster dan tidak menyukai sampanye karena membuatnya sakit kepala.

“Di Perancis, menteri mundur gara-gara makan lobster. Di Aceh (Simeulue), setiap hari orang bisa maka lobster. Orang Aceh lebih kaya daripada orang Perancis karena bisa makan lobster setiap saat,” ungkap Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo dalam Kuliah Umum di Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh, Rabu (7/8/2019).

Doni menyebutkan, lobster sangat favorit di luar negeri itu adalah makanan

yang biasa dimakan di Pulau Simeulue. Warga bisa makan lobster kapan saja dan bisa tiga kali sehari. Produksi lobster dari Pulau Simeulue sangat diminati di luar negeri.

Peluang ini telah digunakan oleh investor dengan berinvestasi di sana dan mengirim dengan pesawat terbang berbadan kecil dari Simeulue ke Bandara Udara Kuala Namu Sumatera Utara

“Produksi lobster di Simeulue menambah pendapatan warga. Mari kita bisa perbanyak bicara politik kesejahteraan daripada terlalu banyak berpikir tentang politik kekuasaan,” ajak Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Setjen Wantannas) dihadapan 1.500 mahasiswa/i yang ikut wisuda.

Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu meminta pemuda-pemudi Aceh tidak lagi berorientasi

kepada politik kekuasaan, tapi semua bergandeng tangan bersama sama menjalankan politik kesejahteraan. Intinya Politik ekonomi, sebab Aceh adalah gudang kekayaan aneka hasil bumi, seperti kopi, nilam, ikan, lobster dan sebagainya. Potensi ekonomi ini mampu sekaligus menjaga lingkungan tanpa penggunaan bahan mercury di sektor pertambangan.

Setjen Wantannas itu mengisahkan suatu ketika dia di Simeulue disajikan lobster sepanjang 40 sentimeter. Pagi, siang, dan malam menu lobster itu dihidangkan. Menurutnya, di luar negeri, hanya orang kaya bisa santap lobster setiap saat. Nah malahan menteri di Perancis mundur karena makan lobster dibayar oleh negara.

“Kalau begini, orang Aceh lebih kaya karena bisa makan lobster setiap saat,” canda Doni mengundang derai tawa wisudawan/i.

Doni menyatakan Unsyiah harus menjadi lokomotif memberdayakan berbagai potensi sektor perekonomian lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah setempat.

“Aceh memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk sektor sumber daya alamnya seperti sektor pertanian, perikanan dan juga sektor pariwisata,” pinta Doni

 

Sumber :

https://rollingstone.co.id/