Liberal atau tak punya nilai

Liberal atau tak punya nilai

Liberal atau tak punya nilai
Liberal atau tak punya nilai

Ini pengalaman nyata saya. Berapa hari lalu, sewaktu menghadiri pemakaman rekan sekantor di pemakaman Ngagel, tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi. Nada deringnya adalah nada lagu natalan (tanpa lirik): we wish you merry Christmas, we wish you merry Christmas, we wish you merry Christmas, and happy New Year. Mendengar nada ini, seorang rekan mengingatkan bahwa itu lagunya orang Kristen dan meminta agar saya merubahnya. Saya mengernyitkan dahi sejenak, lalu berkelit, ”Ini bukan lagu Kristen, Pak. Ini shalawatan: Ya Nabi salam ’alaik, Ya Rasul salam ’alaik, Ya Habiib salam ’alaik, shalawatullahi ’alaik.” Demokrasi sebagai salah satu anak kandung liberalisme jelas bukan barang baru lagi. Pun ia bukan melulu produk kebudayaan barat: Romawi atau Yunani. Dr. Paula L.W. Sabloff dari University of Pennsylvania Museum of Archaelogy and Anthropology menyatakan bahwa Genghis Khan, kaisar Mongolia yang termasyhur itu, telah menyusun empat prinsip dasar demokrasi: pemerintahan yang melibatkan rakyat, negara berdasarkan hukum, persamaan di mata hukum, dan kebebasan pribadi. Yang lebih mengejutkan, Genghis Khan menciptakan prinsip demokrasi ini sembilan tahun sebelum King Jhon menandatangani perjanjian Magna Carta, dokumen yang mendasari demokrasi di Inggris, pada tahun 1215 (Readers Digest Indonesia, Agustus 2006). Dengan demikian, rumusan Khan ini jauh mendahului konsep dasar negara demokrasi modern oleh John Locke atau Montesquieu.

Dalam hal kebebasan beragama, liberalisme setidaknya telah dilahirkan pada abad VI Masehi, di Dunia Timur, bukan di Barat. Waktu itu, Kanjeng Nabi Muhammad diajak berdamai oleh Suku Qurays. Beliau diajak beribadah menurut cara mereka. Sebagai kompensasinya, mereka akan beribadah menurut cara Muhammad. Dengan menyitir perkataan Tuhan, beliau menolak tegas: lakum diinukum wa liya diin.

Meskipun liberal menjadi istilah makruh atau bahkan haram bagi sebagian penghuni negeri Indonesia Raya ini dan ia dianggap produk barat, kenyataan bahwa negeri ini jauh lebih liberal dari negara barat yang paling liberal (konon, Belanda) sekalipun agak sulit terbantahkan. Dalam terang dan batasan pandangan awam (sich!) bahwa liberalisme adalah paham serba boleh, negeri ini sangat liberal! Kenyataan-kenyataan berikut akan segera ”membuktikan”. Di negeri ini, dari kyai kampung sampai kyai bingung, dari kuntilanak sampai Gusti Allah, dari hutan sampai selangkangan, semua boleh dan bebas dijual. Di negeri ini, tontonan televisi ditulisi ”dewasa”, tetapi ditayangkan pada jam-jam sore; majalah dewasa dijual di tempat-tempat umum dengan harga yang ”amat terjangkau”. Di jalan-jalan raya di negeri ini, kendaraan bermotor mengeluarkan asap tebal, membunyikan klakson keras-keras, lalu penumpangnya membuang kulit pisang ke jalan adalah pemandangan biasa, tidak ada sanksi, semua dimaklumi, semua bebas dilakukan. Di negeri ini, orang yang terbukti korupsi, membunuh, atau menganiaya bebas untuk tidak menjalani hukuman.

Contoh-contoh pada alinea terakhir di atas mungkin tidak nyambung dengan teori liberalisme- nya sekolahan, tetapi cukup menunjukkan bahwa liberalisme di negeri ini sangat membingungkan. Islam liberal pun begitu. Apakah ini sebuah proses menjadi liberal, ataukah proses penghilangan nilai, peleburan identitas, pengambangan massa? Atau memang liberalisme identik dengan ini semua?

Baca Juga :