Hakikat Model Inkuiri Jurisprudensial

Hakikat Model Inkuiri Jurisprudensial

Hakikat Model Inkuiri Jurisprudensial
Hakikat Model Inkuiri Jurisprudensial

Salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh guru

Dalam proses pembelajaran adalah bagaimana cara penyampaian materi agar dapat diterima dan diterapkan oleh siswa dengan baik dan menyenangkan. Selama ini yang kita ketahui pembelajaran yang telah kita kenal terlalu banyak menggunakan metode ceramah secara klasikal karena dianggap mudah dan murah. Tanpa mengurangi kemampuan dari metode ceramah, penggunaan metode ceramah dalam pembelajaran kurang efektif karena pembelajaran ini berpusat pada guru (teacher centered) sehingga siswa cenderung pasif. Oleh karena itu keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran tergantung pada kemampuan guru memahami dan memilih model pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Tentu saja pemilihan model ini harus disesuaikan dengan karakteristik materi yang akan disampaikan.

 

Seringkali pula ketika proses belajar mengajar berlangsung

Siswa tidak diberikan kesempatan untuk aktif dengan alasan keadaan atau situasi tidak akan kondusif ketika siswa diberi kebebasan untuk mengembangkan kemampuannya. Pada kenyataannya, kebebasan yang diberikan dapat menambah ide dan wawasan siswa. Agar siswa mampu mencapai standar ketuntasan, strategi khusus dalam mengajar sangat diperlukan. Strategi yang dimaksud adalah model yang dipakai dalam pembelajaran.

Guru dapat mencoba mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan berbagai model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang layak untuk dicobakan adalah model inkuiri jurisprudensial karena dalam penerapannya, model pembelajaran inkuiri jurisprudensial ini akan menuntut siswa untuk berperan secara aktif dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu tahapan-tahapan yang terdapat dalam model pembelajaran inkuiri jurisprudensial ini juga akan mempermudah siswa dalam menyerap informasi yang diberikan oleh guru. Debat yang dilakukan membuat siswa menjadi lebih bersemangat dan antusias dalam mengemukakan pendapat mereka masing-masing. Dengan demikian tidak ada siswa yang pasif dalam pelaksanaan pembelajaran.

 

Model pembelajaran inkuiri jurisprudensial bertolak dari fakta bahwa

Dalam kehidupan masyarakat, tidak lepas dari adanya isu-isu dan konflik/masalah di antara berbagai kepentingan yang ada. Selain itu, model jurispruidensial dapat membuat siswa berpikir kritis tentang masalah yang sedang mereka hadapi pada objek yang diamati, dan mengaitkan masalah tersebut dengan kondisi saat itu. Dengan menggunakan model ini, siswa dapat memiliki kesempatan untuk mengembangkan wawasan, pengetahuan, dan pengalamannya dalam pembelajaran di kelas.

Siswa merupakan subjek utama dalam pembelajaran. Pembelajaran dengan model jurisprudensial melibatkan siswa secara langsung dari awal hingga akhir pembelajaran, yakni sejak perencanaan (penentuan topik), proses observasi atau pengamatan, diskusi, pemaparan atau presentasi, dan evaluasi. Dengan demikian, siswa mengetahui kesalahan-kesalahan yang terjadi atau kekurangan-kekurangan yang ada, serta membantu siswa terampil menguasai materi pembelajaran. Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/ 

 

Pembelajara inkuiri jurisprudensial bertujuan untuk peka terhadap permasalahan sosial

Mengambil posisi (sikap) terhadap permasalahan tersebut, serta mempertahankan sikap tersebut dengan argumentasi yang relevan (Uno, 2010: 31). Dengan demikian, penggunaan model ini dapat membantu siswa untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan baik. Di dalam penggunaan model jurisprudensial, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan jumlah siswa 5-6 siswa tiap kelompoknya. Dalam satu kelompok, masing-masing siswa memiliki karakteristik yang berbeda. Setelah setiap siswa mendapatkan kelompok, siswa diajak mengamati objek pengamatan secara langsung kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas.