Gerakan Militan dari Tan Malaka

Gerakan Militan dari Tan Malaka

Gerakan Militan dari Tan Malaka
Gerakan Militan dari Tan Malaka

Seiring perjalanannya, Jepang menduduki Singapura dan Hindia. Dan Tan Malaka kembali ke tanah kelahirannya di Jakarta dengan rumah kecil. Ia menamakan diri dengan nama Iljas Husein, ia sering pergi ke perpustakaan untuk menulis buku terpenting yaitu Madilog: Gabungan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Ia menyesuaikan teori Marx dengan pemahaman pribadinya pada situasi dan kondisi Indonesia. Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia.
Akan tetapi, satu tahun tahun ia di Jakarta keuangannya samakin menipis, dan akhirnya ia bekerja sebagai pengawas pertambangan di Bayah, tepatnya pantai selatan Banten. Disini keadaan pekerja paksa “Romusha” sangat menyedihkan. Dari sini ia memprovokasi para pemuda harus bangkit untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan bukan yang dihadiahkan Jepang akan tetapi kemerdekaan itu dengan cara direbut “Ucap Tan Malaka”.
Ia datang ke Jakarta dengan harapan akan bisa ikut berperan di tengah perkembangan, yang sama sekali haluannya belum menentu. Tan Malaka pada 6 Agustus datang kepada Burhanudin Muhammad Diah (B.M. Diah) yang dikenal sebagai tokoh golongan muda yang radikal dengan organisasi yang dipimpinnya yaitu Gerakan Angkatan Baru ’45, Lahir 7 April 1917 di Kutaraja, Aceh.
Pada saat Jepang menduduki Indonesia, ia termasuk orang yang terkemuka di Jawa. Berkat profesinya dalam bidang kewartawanan, pada tahun 1942-1948 ia diangkat menjadi pemimpin dari surat kabar Asia Raja tepatnya di Jakarta. Walaupun demikian semangat nasionalismenya tetap ada. Bersama dengan Chairul Saleh, Sukarni, Wikana dan lain-lain sering mengadakan pertemuan dan akhirnya 3 Juni 1945 dibentuklah gerakan Angkatan Baru yang bertujuan “Memperjuangkan Indonesia. Ternyata kunjungan Tan Malaka merupakan pilihan yang tepat, Tan Malaka mengenalkan diri sebagai Husein dari Bayah dan sebagai utusan pemuda dari sana. Ia bertujuan ingin bertemu ketua angkatan baroe dan ingin mendengar bagaimana rapat pada 6 Juli lalu. Husein berbicara dengan Diah tanpa ada rasa kekhawatiran sebagai mata-mata dan provokator, karena ia menggebu-gebukan kemerdekaan itu harus ada di tangan pemuda. Oleh karenanya ia menjanjikan dari pemuda banten dan ia memberikan kesan kepada Diah seorang intelektual yang cerdas. Lambat laun ia selalu memprovokasi kepada setiap orang khususnya pada Ajib Muchammad Dzuhri pada rapat wakil-wakil rahasia pemuda Banten. dan dilanjutkan pada tokoh-tokoh radikal dari Jakarta seperti Soekarni dan Chaerul Saleh. Akhirnya seperti pejuang ini telah berkumpul di tempat M. Tachril yaitu pegawai GEBEO (Gameenschappelijk Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken). Husein mendapatkan kesempatan bicara dan mengucapkan sebuah pidato yang bersemangat. Ia memberikan contoh tentang perjuangan kemerdekaan negara-negara lain. Dan ia meramalkan kekalahan jepang dalam waktu dekat mendatang. Maka kemerdekaan harus direbut oleh kaum pemuda, dan jangan sekali-kali sebagai hadiah, kita bukan kolaborator “ucap Tan Malaka”.[3]
Dan Husein juga berbicara seluruh kaum muda harus mengambil alih kekuasaan, dan tidak akan di bawah penjajahan belanda lagi. Oleh karena itu proklamasi Indonesia merdeka itu harus terjadi. Di rebut dengan kekuatan dan persatuan, serta pemuda yang akan menjadi garda depan. Sebagai rakyat banten dan terutama sebagai pemuda yang telah siap untuk merdeka maka kami siap untuk mewujudkan proklamasi itu “Ucap Husein”. Dan ia menyerukan kepada daidanco di banten untuk mencari dukungan mereka. Proklamasi harus ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta yang bisa diwakili sebagai wakil rakyat Indonesia.dari sini jepang gencar dan melarang manifestasi terbuka di sekitar proklamasi. Karenanya mereka mengiri pasukan di jalan-jalan dan menghalangi meluanya pemberitaan melalui radio dan surat kabar. Proklamasi ini berlangsung dengan tergesa-gesa di pelataran Tan Malaka dalam memberi bentuk seruan formal tentang kemerdekaan Indonesia. Maka teks proklamasinyapun nyaris pendek saja. “kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnya. Tertanggal 17-8-05 “wakil bangsa Indonesia”.

Sumber : https://canvas.umw.edu/eportfolios/65247/Home/The_principle_of_Economics_is