Dasar Hukum

Dasar Hukum

Al-Quran tidak menyebutkan secara tegas ayat yang berkaitan dengan asuransi. Dalam hal ini tidak ditemukan istilah asuransi atau al-ta’min dalam al-Quran. Tetapi al-Quran masih mengakomodir ayat yang berkaitan dengan nilai-nilai dasar yang ada dalam praktek asuransi itu sendiri, diantaranya:

  1. QS. Al-Maidah: 2, yang memuat perintah tolong-menolong antarsesama manusia. Dalam bisnis asuransi, nilai ini terlihat dalam praktek kerelaan nasabah untuk menyisihkan dananya sebagai dana sosial. “… tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran …
  2. QS. At-Taghaabun: 11, yang menegaskan bahwa segala musibah dan peristiwa dimasa depan tidaklah dapat diketahui manusia. Dalam bisnis asuransi hal ini dipelajari dalam bentuk manajemen resiko. “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah…”.
  3. QS. An-Nisa: 7, yang menjelaskan tentang waris-mewarisi. Dalam bisnis asuransi hal ini diterapkan dengan pembayaran klaim (santunan) bagi seorang nasabah asuransi kepada keluarga atau ahli waris yang ditinggalkan. “Bagi anak laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan”.

2.3.       Sejarah Asuransi Syariah di Indonesia

Munculnya asuransi syari’ah pertama kali di Indonesia tak lepas dari nama Asuransi Takaful, yang dibentuk oleh holding company PT. Syarikat Takaful Indonesia (STI) pada tahun 1994. Terbentuknya Asuransi Takaful saat itu memperkuat keberadaan lembaga perbankan syari’ah yang ada terlebih dulu, yakni Bank Muamalat karena asumsinya Bank Muamalat juga membutuhkan lembaga asuransi yang dijalankan dengan prinsip yang sama. Pembentukan awal Takaful disponsori oleh Yayasan Abdi Bangsa, Bank Muamalat Indonesia, dan Asuransi Jiwa TEPATI, yang dipimpin oleh direktur utama PT. STI, Rahmat Saleh sebagai langkah awal. Lima orang anggota TEPATI melakukan studi banding ke Malaysia pada September 1993, yang sudah menerapkan asuransi berprinsip syari’ah sejak 1985. Di negeri Jiran ini asuransi syari’ah dikelola oleh Syarikat Takaful Malaysia Sdn. Bhd. Setelah berbagai persiapan dilakukan, di Jakarta digelar seminar nasional, dan berikutnya STI mendirikan PT. Asuransi Takaful Keluarga dan PT. Asuransi Takaful Umum. Secara resmi, PT. Asuransi Takaful Keluarga didirikan pada 25 Agustus 1994, dengan modal disetor Rp. 5 milyar. Sementara PT. Asuransi Takaful Umum secara resmi didirikan pada 2 Juni 1995.

Setelah Asuransi Takaful Umum dibuka, selanjutnya sejumlah lembaga ikut mendirikan asuransi syari’ah, yakni Asuransi Syari’ah Mubarakah, Asuransi Jiwa Asih Great Eastern, MAA Life Insurance, Asuransi Bringin Jiwa Sejahtera, Asuransi Tri Pakarta, AJB Bumiputera, dan lain-lain.

Baca Juga :

https://belantaraindonesia.org/insomnia-3-apk/