Bule Menolong Bali

Bule Menolong Bali

 

Bule Menolong Bali

Bule yang berniat menjadi orang Bali

Bisa jadi orang bule yang berniat menjadi orang Bali sama banyak dengan orang Bali yang kepingin jadi bule. Jika bule jadi Bali lazimnya mereka senang menggenakan kain, berkebaya, rambut disanggul (bagi yang perempuan) atau menggenakan destar (untuk lelaki). Bule-bule ini rajin datang ke odalan di pura, agar mereka sempat menggenakan busana adat. Acap kali mereka bertanya-tanya kepada kerabat orang Bali, kapan ada odalan di merajan, karena mereka ingin ngaturang bakti.

Orang Bali bahagia sekali jika menyaksikan bule berbusana adat, apalagi bule-bule itu sungguh-sungguh mau jadi orang Bali. Kesungguhan niat bule menjadi Bali itu, misalnya, ditandai dengan menikahi orang Bali.Jika sudah lama tinggal di Bali, beranak-pinak, larut dalam komunitas banjar, niscaya mereka akan sungguh-sungguh jadi orang Bali. Begitulah kira-kira visi dan misi bule-bule itu yang berniat jadi orang Bali.

Sekarang pun bisa ditemukan bule-bule ini di Bali. Entahlah, apakah ada persekutuan bule-bule. Jika ada, sungguh menarik kalau mereka mengadakan acara untuk bertemu di waktu-waktu tertentu. Yang jelas, bule-bali ini pasti bertambah terus jumlahnya, karena interaksi orang Bali dengan orang asing semakin sering. Orang Bali pun tidak terlalu mempersoalkan gesekan bule-bali ini dengan lingkungan Bali, karena sehari-hari mereka tidak memercikan masalah.

Tetapi, belakangan mulai muncul perilaku bule-bali yang ikut-ikutan tabiat orang Bali. Misalnya, mereka kalau mengendarai sepeda motor suka ngebut dan kadang melanggar lampu pengatur lalu lintas. Mungkin ini jenis bule yang sudah berangasan dari tanah tumpah darahnya nun disana. Bagaimanapun hal-hal semacam ini menggugah orang Bali untuk berpikir, tidakkah kelak bule-bali ini, jika semakin banyak jumlahnya, akan menerbitkan masalah baru, seperti halnya kaum pendatang dari Tanah Air? Mengapa selama ini orang Bali tidak pernah mempersoalkan bule pendatang, padahal mereka juga mengambil peluang rezeki orang Bali?

Orang Bali menganggap bule

Orang Bali menganggap bule-bule itu adalah kaum penolong. Banyak bule yang berbisnis barang kerajinan sampai ke pelosok-pelosok desa dianggap dewa penolong perekonomian rakyat. Mereka memberi pesanan, orang desa mengerjakannya tanpa harus meninggalkan pekerjaan sebagai petani. Uang hasil mengerjakan pesanan barang seni dan kerajinan itu bisa digunakan untuk biaya upacara, sehingga berkat bule-bule itulah orang Bali bisa menjalani hidup skala-niskala. Tentu tak ada alasan untuk tidak senang kepada para penolong yang leluhur mereka ada di Amerika, Eropa, atau Australia itu.

Bali ditolong bule

Bali ditolong bule kini sudah menjadi sebuah kebiasaan, jika tidak hendak menyebutnya sebagai sebuah kebudayaan baru. Ada yang berseloroh, jika mau dan diizinkan, Bali berani merdeka, karena pulau ini dihuni oleh banyak bule. Bali punya teman banyak bule. Jika merdeka, Bali diserang, atau menghadapi kesulitan ekonomi, finansial, militer, keamanan, jelas bule-bule itu akan membantu. Artinya, Amerika, Eropa, Australia, tak bakalan berpangku tangan.

Maka, jangan heran jika bule-bule Bali itu juga menjadi harapan dalam pembangunan politik. Misalnya, apa salahnya membuat aturan agar bule-bali itu bisa menjadi calon legislatif? Bukankah selama ini Bali sudah terbiasa ditolong bule? Lambat laun, bule itu tak perlu jadi WNI, yang penting sudah sekian tahun menetap di Bali, perkenankan saja jadi calon legislatif. Dari bule-bule itu orang Bali bisa belajar demokrasi yang baik dan benar, seperti Amerika Serikat sana. Belajar disiplin, tidak korup, mengutamakan orang banyak. Bisa jadi orang Bali merasa lebih terwakili oleh anggota DPR bule tinimbang orang Bali sendiri. Sekalian saja nanti bupati atau gubernur biar bule-bali saja. Siapa tahu zaman puncak keemasan Bali bisa tercapai, turis melimpah ruah, pengangguran nol persen, karena semua orang Bali bekerja jadi room boy, wanitanya jadi penari dalam bisnis entertainment, menghibur pelancong.

Tetapi, sungguhkah Bali perlu ditolong bule? Atau, mungkinkah bule akan sungguh-sungguh tulus ikhlas menolong Bali? Tidakkah memberi pertolongan itu sebuah siasat, cara menguasai Bali? Manakah yang lebih baik, bule menolong Bali atau Bali menolong Bali?

Bali itu tidak hanya menarik, tetapi juga tidak berhenti menjadi unik. Banyak sekali keunikan baru muncul. Di Bali keunikan itu seperti barang seni: beraneka ragam, bebas, cepat berbiak, semarak, dan penuh daya vitalitas kreatif. Jika orang Bali cerdas, niscaya mereka bisa menjadikan keunikan itu untuk kesejahteraan dan kebanggaan. Kalau keunikan itu diembat orang lain, pertanda orang Bali memang kurang cekatan, tak cukup pintar, memanfaatkan peluang.

 

Sumber: https://pengajar.co.id/