Arti Revolusi bagi Tan Malaka

Arti Revolusi bagi Tan Malaka

Arti Revolusi bagi Tan Malaka
Arti Revolusi bagi Tan Malaka

Revolusi adalah jawaban untuk suatu perubahan yang besar secara cepat. Lawan, bumi hanguskan mungkin teori dari marchiavelli adalah jawaban untuk merubah Indonesia dari kaum kolonial. Untuk terjadinya kemerdekaan manusia harus berikhtiar dan berpikir, manusia mesti mematahkan semua yang merintangi kemerdekaannya. Revolusi bukan saja menghukum perbuatan-perbuatan yang kejam, menentang kecurangan dan kezaliman, tetapi juga untuk mencapai seluruh perbaikan dari kelatarbelakangan.

Akan tetapi menurut Tan Malaka, Indonesia dengan 55.000.000 orang yang hidup, tidak akan mungkin merdeka sebelum membuang semua “kotoran” magis dari kepalanya, selama orang-orang masih membanggakan kebudayaan kuno yang penuh butir-butir pikiran yang keliru, kepasrahan, dan selama orang itu masih berjiwa budak. Satukanlah tenaga ekonomi dan sosial yang ada untuk menentang imperialisme barat yang tersusun rapi namun yang kini dalam kesulitan itu menggunakan senjata semangat revolusioner-ploretaris yaitu Materialisme-dialektika.

Menurut Tan Malaka, satu revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup, satu akibat tertentu dari perbuatan-perbuatan masyarakat, atau disebut dengan perkataan dinamis. Dan revolusi adalah hasil dari akibat-akibat tertentu dan tak dapat di hindari yang timbul dari pertentangan kelas yang bertambah hari bertambah tajam. Ketajaman pertentangan ini ditimbulkan dari beberapa faktor, yakni ekonomi, sosial, politik, dan psikologi. Dan tujuan dari Revolusi ialah menentukan kelas mana yang akan memegang kekuasaan negara baik dibidang politik dan ekonomi serta dijalankan dengan kekerasan.

Bisa kita ambil contoh dari faktor-faktor revolusi di Indonesia yaitu, kekayaan dan kekuasaan sudah bertumpuk pada genggaman beberapa orang kapitalis/penguasa. Kemudian, Rakyat Indonesia semakin lama semakin miskin, melarat, tertindas; pertentangan golongan dan kebangsaan semakin lama semakin tajam; Pemerintah semakin lama semakin reaksioner bangsa Indonesia, jelasnya semakin besar jurang antara kelas yang memerintah dengan kelas yang diperintah; Dari hari ke hari semakin bertambah kecaman revolusioner dan tak mengenal damai.[2]

Setelah dilukiskannya sifat revolusi Tan Malaka juga melukiskan alat revolusi yang bakal timbul dengan sekilas tentang gerakan kemerdekaan di Indonesia. Sebelum berbicara alat revolusi kita juga harus tahu musuh besar dari perjuangan kemerdekaan yaitu imperialisme barat dan kapitalime. Karena ada penghambat kedua inilah kemerdekaan lambat untuk terjadi. Jadi, jika ingin merdeka secara penuh kemerdekaan harus dipikirkan secara matang, dan harus menghilangkan semua yang menghambat dari kemerdekaan negara.

Penyebab dari Imperialisme itu sendiri di akibatkan karena pertama,Keinginan untuk menjadi jaya, menjadi bangsa yang terbesar di seluruh dunia (ambition, eerzucht). Kedua, Perasaan sesuatu bangsa, bahwa bangsa itu adalah bangsa istimewa di dunia ini (racial superiority). Ketiga, Hasrat untuk menyebarkan agama atau ideologi dapat menimbulkan imperialisme. Tujuannya bukan imperialisme, tetapi agama atau ideologi. Imperialisme di sini dapat timbul sebagai “bij-product” saja. Tetapi jika penyebaran agama itu didukung oleh pemerintah negara, maka sering tujuan pertama terdesak dan merosot menjadi alasan untuk membenarkan tindakan imperialisme. Keempat, Letak suatu negara yang masih diangap geografis tidak menguntungkan. Dan yang terakhir yaitu faktor ekonomi, ini adalah faktor terpenting terjadinya imperialisme. Karena disini ada keinginan untuk mendapat kekayaan dari suatu negara, ingin menguasai perdagangan, dan ingin menguasai industri yang ada.

Bisa kita ambil contoh di tiga negara seperti Indonesia, India dan Filipina. Sekalipun semangat revolusioner di Indonesia sudah matang dan menyala-nyala tetapi persediaan belum cukup, maka selama itu pula Belanda masih berdiri sendiri. Begitu juga di India, jika India diberikan jalan konsesi yang besar serta kompromi politik antar golongan, maka selama itu pula Inggris akan berdiri di sana. Hal ini juga setara terjadi di Filipina, dengan bertopengkan pengasuh, penolong, dan pengasih manusia serta memberikan otonomi-ekonomi dan politik kepada bumi putra di Filipina maka imperialisme Amerika masih dapat menahan revolusi disana.

Revolusi di Indonesia sebagian kecil menentang sisa-sisa feodalisme dan sebagian menentang imperialisme barat yang zalim, di tambah lagi kebencian bangsa timur terhadap barat yang menindas dan menghinakan mereka. Jadi inti dari kekuatan revolusi (sekurang-kurangnya di Jawa) harus dibentuk oleh kaum buruh industri modern, perusahaan, dan pertanian (buruh mesin dan tani). Banteng-benteng politik terutama ekonomi imperialisme Belanda hanya dapat dipukul oleh kaum buruh.

Mengenai tujuan buruh melewati anti imperialisme yaitu, mereka berniat ingin merobohkan kaum kapitalis. Kaum buruh Indonesia menhendaki ishlah yang radikal di dalam perekonomian, sosial, politik, dan ideologi sekarang atau nanti. Karena bila setelah belah kelak dimusnahkan dalam arti kemenangan, niscaya kaum buruh akan berganti menjadi kaum borjuasi. Jadi borjuasi yang kecil, apalagi yang besar hanya anti imperialisme saja, sedang kaum buruh anti kedua-duanya imperialisme dan kapitalisme.

Kebobrokan kapitalisme kolonial Belanda nampak makin lama makin terang. Kapitalisme Eropa dan Amerika didukung oleh kaum sosial demokrat. Di tanah-tanah jajahan seperti : Mesir, India, Inggris, dan Filipina imperialisme yang sedang goyah didukung oleh borjuis nasional. Tetapi di Indonesia tak ada sesuatu yang berarti yang mampu menolong menegakkan kembali imperialisme Belanda yang sedang goyah.

Pertentangan antara rakyat Indonesia dan imperialisme Belanda makin lama makin tajam. Penderitaan massa bertambah pesat. Harapan dan kemauannya untuk merdeka berlangsung bersama-sama dengan penderitaannya. Politik revolusioner merembes di antara rakyat Indonesia makin lama makin meluas. Pertentangan yang makin tajam antara yang berkuasa dan yang dikuasai menyebabkan pihak yang berkuasa menjadi kalap dan melakukan tindakan-tindakan sewenang-wenang.

Suara merdu politik etis sekarang diganti dengan suasana tongkat karet yang menjemukan dan gemerincing pedang di Bandung, Sumedang, Ciamis, dan Sidomulyo. Imperialime Belanda telah melampaui batas poltiik etis. Pelaksanaan politik tongkat karet dan pistol diresmikan dengan darah dan jiwa proletar. Rakyat Indonesia di bawah ancaman dan siksaan di luar batas prikemanusiaan tetap menuntut hak-hak kelahirannya ialah hak-hak yang semenjak puluhan tahun yang lalu telah diakui di Eropa dan Amerika, tetapi oleh imperialisme Belanda revolusioner menghadapai perjalanan jauh yang lebih panjang sebelum sampai kemerdekaan sejati. Jadi semestinyalah mereka giat dan radikal dalam hal perjuangan.

Begitu juga dengan alat kapitalis yang digunakan barat untuk mengeruk hasil negara dengan sebanyak-banyaknya. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin bahkan hancur tak mengarah. Dalam suatu paham kapital, pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Intervensi pasar yang di lakukan kapitalis bukanlah untuk hasil bersama melainkan untuk kepentingan individunya sendiri.

Akan tetapi alat revolusi yang akan di jalankan Inggris di India telah dapat di boikot oleh pimpinan Tilak pada tahun 1900-1905. Semua ini bermaksud agar industri dan perdagangan nasional India sendiri bisa hidup. Begitu juga dengan Filipina, Filipina berhasil mencegah Amerika menanam kapitalnya di Filipina, hal ini akan mengakibatkan rakyat sengsara, serta Amerika akan mendapatkan satu alasan untuk merintangi kemerdekaan Filipina. Berbeda dengan Indonesia, kapitalisme di Indonesia tidak dilahirkan oleh cara-cara produksi bumi putra yang alamiah. Ia adalah alat asing yang dipergunakan untuk kepentingan asing yang dengan kekerasan mendesak sistem produksi bumiputra itu sendiri.

Di Indonesia sebagai akibat kemajuan ekonomi yang tidak teratur arahnya, sangat berbeda dengan negara-negara dua tersebut. Indonesia tidak menghasilkan barang-barng baik untuk desa maupun untuk perdagangan luar negeri, dari kapitalis-kapitalis bumi putra. Mesin-mesin pertanian, keperluan rumah tangga, bahan-bahan pakaian, dan sebagainya di datangkan dari luar negeri oleh badan-badan perdagangan imperialis. Begitu juga beras, makanan pokok ini juga didatangkan dari luar. Mereka pandai mengerjakan tanahnya akan tetapi mereka lebih memilih memproduksi teh, gula, karet, dan sebagainya untuk memperkaya saudagar asing, tetapi melaratkan kaum tani. Jadi semua keuntungan hanya diperuntukan untuk bangsa luar. Faktor yang menyebabkan kapitalisme bukan Indonesia muncul akan tetapi mengingat sejarah negeri kita tersebut.

Marx pernah berkata : “Proletariat tak akan kehilangan sesuatu miliknya, kecuali belenggu budaknya”. Kalimat ini dapat kita gunakan di Indonesia lebih luas. Disini anasir-anasir bukan proletar berada dalam penderitaan yang sama dengan buruh industri, karena di sini tak ada industri nasional, perdagangan ansional. Dalam bentrokan yang mungkin terjadi antara imperialisme Belanda dan rakyat Indonesia tak seorang Indonesia pun akan kehilangan miliknya karena bentrokan itu. Di Indonesia kita dapat serukan kepada seluruh rakyat : “Kamu tak akan kehilangan sesuatu milikmu kecuali belenggu budakmu”.

Kembali pada alat revolusi yang di canangkan untuk kemerdekaan Indonesia oleh Tan Malaka yaitu mengambil alih kekuasaan bukan dengan kekerasan, kudeta, dan aksi anarkis, akan tetapi menggunakan aksi jitu dengan menyatukan suara kita baik dari segi ekonomi, sosial,dan politik. Dengan satu tujuan yaitu kemerdekaan Nasional.

Menurut Tan Malaka, selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan putch (kudeta) atau anarkisme, itu hanyalah impian seorang yang sedang terlanda demam. Dan mengembangkan kepercayaan itu diantara rakyat adalah satu perbuatan yang menyesatkan, disengaja atau tidak. Karena putch adalah segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Dan gerombolan itu biasanya mencangkan kemauan sendiri dengan tidak memperdulikan perasaan dan kecakapan sendiri dengan tidak memperdulikan perasaan dan kesanggupan massa. Dia mungkin lupa atau mungkin tidak tahu bahwa massa dapat di tarik kearah aksi politik yang keras (dalam kacamata modern) penuh kesengsaraan serta reaksi yang membabi buta.

Di negeri yang memiliki industri sebagaimana Indonesia massa aksi, yakni boikot, mogok, dan demonstrasi, dapat digunakan lebih sempurna sebagai senjata yang tajam. Bisa kita ambil contoh, Bila satu partai revolusioner berhasil memerintah kaum buruh yang berjuta-juta meninggalkan pekerjaannya, dan yang bukan buruh tak mau bekerjasama dan seluruh rakyat menuntut ekonomi dan politikdengan satu suara, aksi ini akan besar artinya. Bahkan lebih besar dari pada 100 pemberontakan Jambi.

Kelebihan massa aksi ketimbang putch yaitu pertma, perjuangan massa aksi selamanya dapat di kontrol, sedang dengan yang kedua kita memperlihatkan diri kepada musuh. Di dalam massa aksi pemimpin boleh berjalan sekian jauh menurut kepatutan yang perlu dan yang sesuai dengan keadaan yang saat ini. Dengan menentukan berapa jauh ia boleh mengadakan tuntutan politik dan ekonomi dengan tidak menanggung kerugian besar. Dan Massa Aksi tidak kehilangan hubungan  massa dan antara massa itu sendiri.

Sementara itu pertempuran yang membabi-buta yaitu tindakan keras tukang-tukang putch yang disengajanya terhadap musuh. Mereka sejak awal di serang musuh, sedangkan massa aksi dengan memegang peta perjuangan ia dapat mempermainkan musuh dengan jalan maju selangkah dan kemudian maju sekaligus untuk menggempur habis-habisan.

Massa aksi juga harus punya pemimpin yang praktis, tentang politik dan ekonomi serta psikologi massa dan kemudian pandai menghitung kejadian-kejadian politik yang akan terjadi. Dan pemimpin itu juga harus dapat menghitung waktu yang baik dan tepat sehingga mendatangkan keuntungan dalam melakukan revolusi.

Mengenai revolusi menurut Tan Malaka kemenangan Revolusioner memerlukan dua faktor yaitu :

  1. Objektif, yakni tingkatan dari tangan produksi dan kemelaratan massa. Tingkatan itu terutama di Jawa dan di beberapa tempatdi Sumatera dalam pandangan kita dianggap cukup.
  2. Subjektif, yakni kesediaan bangsa Indonesia menyiapkan satu partai revolusioner yang sempurna, teratur dan matang betul dengan keadaan revolusioner yang baik.

Sumber : https://my.sterling.edu/ICS/Academics/LL/LL379__UG08/FA_2008_UNDG-LL379__UG08_-A/Blog_105.jnz?portlet=Blog_105&screen=View+Post&screenType=next&&Id=6440e3cc-8f2c-49c7-8ed1-ee55e4270ff1